KELAS PURBAYA : “Ketika Rakyat Tiba-tiba Melek Ekonomi” oleh Bambang Soesatyo
Jakarta – 30 oktober 2025, Di tengah derasnya arus informasi, ada satu catatan yang menarik perhatian kami: dari akun Instagram Bapak Bambang Soesatyo, @bambang.soesatyo. Narasi ini mengajak kita menelisik ekonomi negeri dengan cara yang lugas, jujur, dan menggugah kesadaran rakyat.”
“Negeri ini selama sepuluh tahun menambah utang lebih dari tujuh ribu triliun, dikorupsi tiga ribu triliun, dan anehnya… kok tidak bisa bayar cicilan bunga tiga ratus triliun”.
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Purbaya Yudha Sadewa — Tidak pakai diksi akademik, tidak dibungkus eufemisme teknokratik. Hanya kalimat lugas, tapi cukup untuk membuka ruang kuliah ekonomi terbesar di republik ini.
Selama bertahun-tahun, ekonomi di negeri ini adalah bahasa kasta atas. Kata “defisit” terdengar seperti ancaman kiamat. Kata “surplus” seolah kabar gembira, meski rakyat tak pernah tahu surplus itu mampir ke dapur siapa.
Namun tiba-tiba, dinding menara itu retak. Sebuah nama — Purbaya — menendang pintu menara gading itu dari dalam, membuka ruang dialog di bawah. kalimatnya terasa seperti “kebocoran kebenaran” dari ruang steril kekuasaan. Ia bukan sedang membakar, tapi menyalakan. Bukan sedang menyerang, tapi menggugah.
Begitulah efek domino literasi. Rakyat mulai menghitung. Bukan lagi sekadar mengeluh harga sembako, tapi menelusuri kenapa anggaran tak sampai.
Semua belajar, semua bicara. Freire menyebutnya conscientização — kesadaran kritis yang membuat rakyat tak lagi pasif, tapi partisipatif dan mampu membaca kekuasaan.

Purbaya telah membuka kotak Pandora yang selama ini dibiarkan tertutup. Ia menjelaskan dengan bahasa yang tak bisa disangkal: uang daerah yang parkir di deposito itu seperti mobil dinas yang diparkir di garasi tanpa kunci. Secara formal diam, tapi sebenarnya bisa dikendarai siapa saja. Pejabat dapat fee dari orang bank, uang rakyat tetap diam, ekonomi tidak berputar.
Ekonomi, kata Purbaya, bukan hanya soal APBN. Ia adalah cermin moral bangsa. Bagi yg hatinya kotor, pembangunan hanyalah panggung dan angka kesejahteraan hanyalah statistik yang menipu. Disinilah bangsa ini diuji. Bukan apakah kita mampu menambah anggaran, tapi apakah kita berani menegakkan integritas di tengah sistem yang gemar berkelit.
“Negeri ini tidak kekurangan uang, kata Purbaya, yang kurang itu keberanian menjaga uang agar tetap terang.“
Narasi ini kami kutip dari catatan Bapak Bambang Soesatyo di Instagram beliau, @bambang.soesatyo.
