Iko Lah Gunonyo Kalau Ado Orang Kito di Pusat.
Kalimat itu terdengar sederhana, namun sarat makna. Sebuah ungkapan yang lahir dari rasa lega: ketika suara daerah tidak berhenti di meja, tetapi benar-benar sampai ke ruang pengambilan keputusan.
Terkadang Di desa, cerita sering lahir dari jalan yang belum selesai.
Dari ambulans yang harus memutar.
Dari anak sekolah yang menempuh jarak lebih jauh setiap hari”.
Cerita-cerita itu lalu dibawa ke kota. Ke Jakarta—tempat keputusan dibuat, dan harapan kerap diuji oleh jarak dan waktu.
Di kota inilah peran itu dijalankan Ketua DPD RI, Sultan B. Najamudin. Ia tidak hanya mendengar aspirasi yang dibawa dari daerah, tetapi memastikan setiap cerita berlanjut menjadi percakapan kebijakan.
Dari satu pertemuan ke pertemuan lain, komunikasi dibangun dengan tenang, terarah, dan konsisten—menjembatani jarak antara desa yang menunggu dan pusat yang menentukan arah.

Hasilnya mulai terasa. Tiga kepala daerah—Bupati Bengkulu Selatan, Bupati Kepahiang, dan Bupati Rejang Lebong—mendapat undangan resmi dari Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Mereka datang bukan sekadar menghadiri rapat, tetapi membawa peta kebutuhan daerah masing-masing.
Ketua DPD RI Buka Jalur Substantif Daerah–Pusat, Tiga Bupati Dipanggil Bahas Infrastruktur
Di ruang koordinasi itu, cerita-cerita lapangan berubah menjadi paparan program. Jalan yang belum tersambung, akses yang masih terputus, pelayanan publik yang perlu diperkuat—semuanya disampaikan langsung, tanpa perantara. Infrastruktur tidak lagi dibahas sebagai angka, tetapi sebagai kebutuhan hidup masyarakat.
Pertemuan tersebut menjadi penanda penting: bahwa dialog antara daerah dan pusat dapat berjalan substantif ketika difasilitasi dengan tepat. Ketua DPD RI hadir sebagai jembatan—menghubungkan kepentingan lokal dengan arah kebijakan nasional.

Perjalanan itu tidak berhenti di satu sektor. Di kesempatan lain, Bupati Kepahiang melangkah ke Kementerian Sosial, menindaklanjuti aspirasi yang sebelumnya diserap saat kunjungan kerja Ketua DPD RI. Satu pintu terbuka, pintu lain menyusul.

Bagi kepala daerah, dukungan itu terasa nyata. Akses yang sebelumnya jauh kini terasa dekat. Jejaring yang dahulu berlapis kini lebih langsung. Ketika desa dan kota tersambung, Harapan menemukan jalannya, di sanalah ungkapan itu menemukan maknanya:
“Iko lah gunonyo kalau ado orang kito di pusat“
Ketika ada yang berjalan, mendengar, dan memastikan suara daerah benar-benar diperjuangkan.
