Menanti Guncangan Ganda: Fed Pangkas Bunga tapi Ragu Lanjut, Trump–Xi Tarik Ulur; BEI Fokus Kualitas di Balik Euforia IHSG
Purbaya Yudhi Sadewa – Menteri Keuangan:
“Fundamental ekonomi Indonesia masih solid. IHSG punya ruang tumbuh lebih tinggi, asalkan stabilitas global terjaga dan reformasi ekonomi berlanjut.”
Pertemuan Trump dan Xi di sela KTT APEC menjadi sorotan investor global, di tengah fluktuasi pasar saham dan kebijakan suku bunga The Fed
Jakarta, 30 Oktober 2025 —
Pasar saham Indonesia bersiap melanjutkan penguatan setelah dua hari koreksi, di tengah optimisme terhadap pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) dan sentimen positif dari pemerintah. Namun di balik euforia kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Indonesia (BEI) mengingatkan pentingnya menjaga kualitas pasar di tengah potensi guncangan global.
IHSG tercatat rebound dengan dorongan optimisme pasar setelah The Fed memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00%. Ini merupakan pemangkasan kedua sepanjang tahun, meski bank sentral AS itu belum memberi sinyal pasti akan melanjutkan pelonggaran pada Desember mendatang. Pandangan para pejabat Fed pun terbelah, membuat pelaku pasar berhati-hati terhadap arah kebijakan berikutnya.
Dari dalam negeri, pernyataan bullish Menteri Keuangan Purbaya yang memproyeksikan IHSG bisa mencapai 9.000 hingga 32.000 poin menambah sentimen positif. Namun Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menegaskan bahwa pergerakan IHSG tidak semata ditentukan oleh target angka, melainkan hasil dari pengembangan pasar modal yang berkualitas.
“IHSG adalah cerminan dari kualitas emiten, kondisi ekonomi global dan domestik, serta fundamental pasar kita. Fokus kami tetap pada kualitas, bukan hanya kuantitas atau euforia,” ujarnya.
Kinerja Pasar 2025: Rekor Kapitalisasi dan Lonjakan Investor
Hingga 24 Oktober 2025, kapitalisasi pasar BEI mencapai Rp15.234 triliun atau naik 23% secara year to date (YtD), dengan rekor tertinggi Rp15.559 triliun pada 10 Oktober. IHSG sendiri berada di level 8.271,72 atau menguat 16,83% YtD, mendekati rekor 8.274,38 pada 23 Oktober.
Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai Rp16,46 triliun, naik 28% dibandingkan Desember 2024, dengan total penghimpunan dana efek mencapai Rp202,6 triliun. Jumlah investor juga tumbuh signifikan menjadi 19,1 juta, termasuk 4,2 juta investor baru sepanjang tahun ini.
Fokus 2026: Kualitas, IPO Besar, dan Perluasan Investor
Untuk 2026, BEI menargetkan RNTH harian sebesar Rp14,5 triliun dengan penambahan dua juta investor baru. Dari sisi pencatatan, BEI menargetkan total 555 efek yang meliputi saham, obligasi, ETF, DIRE, DINFRA, EBA, hingga waran terstruktur.
Tiga “lighthouse IPO” dari sektor perbankan, infrastruktur, dan pertambangan tengah dalam proses menuju pencatatan. Total 50 IPO ditargetkan tahun depan, enam di antaranya berstatus perusahaan skala besar.
Awan Ketidakpastian Global: Trump–Xi dan Data Tenaga Kerja AS
Dari eksternal, perhatian investor kini tertuju pada pertemuan antara Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di sela KTT APEC Korea Selatan. Pertemuan ini dinilai krusial untuk menentukan arah hubungan dagang dua ekonomi terbesar dunia. Tenggat gencatan tarif masih membayangi, dan kegagalan kesepakatan berpotensi memicu kembali perang tarif.
Sementara itu, data terbaru klaim pengangguran AS akan segera dirilis. Penurunan data sebelumnya menciptakan sentimen campuran bagi pasar mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.
Domestik: Penguatan Fundamental dan Aturan DHE
Di dalam negeri, pemerintah bersama BI, OJK, dan Kemenkeu tengah menyempurnakan aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Ketentuan simpanan devisa selama 12 bulan dinilai belum optimal, dan pemerintah berencana menyiapkan insentif tambahan bagi eksportir sektor sumber daya alam (SDA).
Indeks Dolar AS kini berada di level 99,2, tertinggi sejak 14 Oktober, dengan imbal hasil obligasi (yield) AS yang ikut meningkat. Kondisi ini menjadi risiko bagi rupiah dan potensi arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang (emerging markets).
Implikasi: Pasar Siaga di Tengah Euforia
Menjelang hasil konkret pertemuan Trump–Xi dan kejelasan arah The Fed, volatilitas pasar global diperkirakan meningkat dalam jangka pendek. Namun secara fundamental, pasar modal Indonesia menunjukkan daya tahan kuat dengan kapitalisasi besar, likuiditas tinggi, dan basis investor yang terus bertumbuh.
“Euforia IHSG harus dibarengi dengan kehati-hatian dan fokus pada fundamental. Kualitas emiten dan pipeline IPO besar akan menjadi kunci keberlanjutan reli pasar ke depan,” ujar Iman menegaskan.
