Shutdown AS Berpotensi Berakhir, Sentimen Positif Dorong IHSG dan Rupiah

US Capitol Dome dengan tanda penutupan Visitor Center karena shutdown pemerintah AS

JAKARTA – Harapan berakhirnya shutdown pemerintah Amerika Serikat (AS) memunculkan sentimen positif di pasar keuangan global. Investor menyambut optimis peluang kesepakatan pendanaan sementara yang dapat mengakhiri kebuntuan politik terpanjang dalam sejarah AS, sekaligus mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah pada perdagangan awal pekan ini.

Shutdown AS Berpeluang Usai Pekan Ini

Shutdown federal AS yang telah berlangsung selama 36 hari berpotensi berakhir setelah Rancangan Undang-Undang (RUU) pendanaan sementara lolos pemungutan suara awal di Senat. Meski masih menunggu persetujuan akhir Kongres, kesepakatan ini akan memperpanjang pendanaan pemerintah hingga 30 Januari mendatang.

Kebijakan ini diharapkan meredakan sejumlah dampak ekonomi, seperti pemotongan subsidi pangan, keterlambatan gaji pegawai federal, hingga ribuan pembatalan penerbangan yang menekan aktivitas ekonomi. Jika kebuntuan ini tidak segera berakhir, pertumbuhan PDB AS kuartal IV dikhawatirkan bisa jatuh ke zona negatif, terutama bila aktivitas bandara belum pulih sebelum libur Thanksgiving.

Konflik Politik dan Respons Pasar

Negosiasi alot masih terjadi antara Presiden Donald Trump dan Partai Demokrat. Demokrat meminta adanya voting tambahan terkait subsidi kesehatan sebelum menyetujui kesepakatan final. Namun, jika DPR AS meloloskan RUU pendanaan pekan ini, aktivitas pemerintahan federal bisa segera kembali normal.

Pasar keuangan global bereaksi positif terhadap perkembangan ini, memicu risk-on rally di awal pekan dan mendukung pergerakan aset berisiko termasuk pasar saham Asia.

Konsumen Indonesia Makin Optimis

Sementara itu, di dalam negeri, optimisme konsumen meningkat tajam. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober 2025 naik signifikan ke level 121,2 dari 115,0 pada bulan sebelumnya. Seluruh komponen indikator mengalami perbaikan, terutama pada ekspektasi ketersediaan lapangan kerja yang kembali ke zona optimis di level 102,6 (dari 92,0).

Kota dengan lonjakan optimisme tertinggi tercatat di Medan, Pontianak, dan Bandar Lampung.

Perilaku Keuangan Rumah Tangga Mulai Bergeser

Survei Bank Indonesia menunjukkan perubahan perilaku keuangan rumah tangga di tengah ketidakpastian global. Proporsi pendapatan untuk konsumsi turun ke 74,7% (dari 75,1%), sementara proporsi tabungan meningkat menjadi 14,3%. Porsi cicilan tetap stabil di sekitar 11%. Kondisi ini mencerminkan cautious optimism atau optimisme yang disertai kehati-hatian.

Menanti Data Penjualan Eceran

Bank Indonesia juga dijadwalkan merilis Indeks Penjualan Ritel (IPR) September hari ini. Sebelumnya, BI memperkirakan IPR tumbuh 5,8% secara tahunan (YoY), melonjak dari 3,5% pada Agustus.

Jika realisasi data sesuai atau di atas perkiraan, maka akan menjadi sinyal kuatnya konsumsi domestik yang dapat menopang kinerja saham sektor ritel dan consumer. Sebaliknya, jika angka IPR meleset di bawah 4%, pasar bisa menilai daya beli mulai melemah dan menekan ruang BI untuk memangkas suku bunga.

Sentimen Campuran untuk IHSG dan Rupiah

Kombinasi faktor global dan domestik hari ini memberikan arah positif bagi pasar keuangan Indonesia.

Faktor pendukung:

Peluang berakhirnya shutdown AS meredakan risiko ekonomi global.Penguatan Wall Street meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko. IKK Indonesia yang melonjak menegaskan daya beli masyarakat masih solid. Namun risiko tetap perlu dicermati, seperti ketidakpastian voting final di Kongres AS, hasil rilis data IPR yang mungkin tidak sesuai ekspektasi, serta potensi fluktuasi rupiah akibat penguatan dolar AS yang masih berlanjut.

Dengan kombinasi faktor tersebut, IHSG dan rupiah diperkirakan bergerak positif namun cenderung terbatas sambil menunggu kepastian dari perkembangan politik di AS dan data ekonomi domestik hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *